Monday, February 26, 2018

Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) 2018, Lampung


"Assalamualaikum... Umi, maaf mengganggu. Aku perwakilan dari Pusat Komisariat Daerah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah kampus mau mengundang Umi sebagai pembicara di acara GEMAR (Gerakan Menutup Aurat) Lampung 2018. Temanya tentang Hijab, Hijrah, Syar'i tanggal 25 Februari 2018, bisakah Umi?"

Novri, seorang teman bloger mengirim chatt, tanggal 14 Februari 2018.

"Insyaallah." Begitu jawaban setiap ada yang minta tolong mengisi acara di tanggal yang memang belum ada agenda.

"Alhamdulillah...jazakillah khoir, Umi, Ini gambaran acaranya."

Tertera rundown acara yang dimaksud.

"Ini rundown acaranya, Umi yang orasi inti," Novri menjelaskan.

"Ha ha ha, di lapangan terbuka? Walah, orasi lagi, harus berapi-api, dong." 😅

"He he he, iya Umi...bisa, ya Umi?"

"Ntar, ngebayangin dulu," saya jawab, bercanda.

Hmm, saya perhatikan rundown acara yang dikirimkan, jadwal orasi tokoh jam 08.45-08.52.

Ha hah! Kultum! Kuliah 7 menit! Beneran 7 menit?

Wk wk wk, biasanya ngisi di forum 1 sampai dengan 3 jam, ini 7 menit?

Wes! Ra po po, mantan guru kimia sudah biasa main rumus, yang panjang-panjang bisa disingkat, ringkas!

Begitulah...dan saat saya kabarkan permintaan panitia ini ke anak-anak, kompak mereka tertawa terbahak-bahak. Mungkin membayangkan Uminya yang biasa ngisi taklim dengan lemah lembut, berubah jadi orator di lapangan terbuka.

Mungkin ini efek bergaul di komunitas yang didominasi anak muda, jadi saat mereka butuh pembicara, saya masuk nominasi, karena dikenali. Terlepas dari alternatif terakhir atau yang pertama, itu hanya jalannya. Pada intinya, itulah yang Allah kehendaki.

Saat diberi amanah, selama itu kebaikan, badan sehat, tidak ada agenda lain yang disanggupi lebih dulu, maka saya akan upayakan sebisa mungkin, apalagi yang meminta anak-anak muda, ibarat anak sendiri. Itulah dukungan yang bisa saya berikan.

***

25 Februari 2018, pagi hari jam 05.30 saya berangkat bersama anak saya, Husna dan temannya. Sampai di Gramedia Husna dan temannya turun, ikut longmarch, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi akhir longmarch, di elepant park yang baru beberapa hari ini diresmikan gubernur Lampung.


Saya dijadwalkan orasi terakhir, sebelum jam 9. Sengaja tidak ikut longmarch, mengingat hari itu ada agenda lain hingga sore hari, jadi harus berhemat tenaga. Tak apalah menunggu hampir 3 jam, toh saya bisa melakukan beberapa kegiatan sambil menunggu.

Saat sampai lokasi tepat jam 6 pagi, masih sepi, hanya beberapa petugas kebersihan dan pengunjung yang berjalan-jalan melihat-lihat isi taman. Saya ambil posisi di dekat lapangan basket, duduk di teras pagar taman. Membuka tab dan berselancar di wa, fb dan blog.


Pengunjung semakin ramai dengan kegiatan masing-masing. Banyak anak-anak bermain sepatu roda, sepeda bahkan motor mini. Yang remaja memilih bermain bola basket, joging atau foto-foto dengan temannya di titik-titik cantik.

Sekita jam 7, seorang gadis berjilbab biru menghampiri, benar dugaan saya, dia panitia. Setelah diberi penjelasan, baru saya ngeh, ternyata tidak bisa meninggalkan lokasi tepat jam sembilan sesuai rencana awal, menuju lokasi agenda kedua, gathering komunitas bloger. Ternyata setelah orasi, saya diminta memakaikan jilbab salah satu peserta sebagai simbol hijrah dalam berpakaian sesuai syariat juga menandatangi deklarasi dukungan gerakan menutup aurat.

Oke, baiklah.

Saya mendapat giliran orasi terakhir, dimana kondisi peserta sudah kepanasan dan lelah setelah longmarch. Semoga apa yang saya sampaikan masih bisa diserap, setelah sebelumnya mendapatkan orasi beruntun dari orator-orator sebelumnya.

Saya hanya memberi penguatan, bagaimana caranya agar bisa istiqomah selalu menutup aurat di tempat dan situasi yang seharusnya.

Ada 4 cara yang bisa kita lakukan:

1. Iman --- hanya orang beriman yang peduli dengan perintah Allah, salah satunya perintah menutup aurat, terus lakukan upaya-upaya untuk menjaga dan meningkatkan keimanan dengan cara menambah ilmu agama dan beramal sholeh.

2. Paham---pahami dasar, alasan, tujuan dan batasan menutup aurat.

3. Niat---luruskan niat, menutup aurat dan istiqomah hingga akhir hayat karena Allah, sebagai bukti ketaatan kepada-Nya.

4. Komunitas---pilih komunitas dan teman dekat yang memiliki energi positif agar lingkungan menjadi kondusif.

Sebelum menutup, saya mengajak seluruh muslimah untuk meningkatkan rasa malu, karena rasa malu bisa mengingatkan dan mencegah kita untuk berbuat maksiat kepada Allah.



Walaupun tidak sampai selesai mengikuti rangkaian acaranya, saya cukup puas bisa terlibat di dalamnya. Menyaksikan sekitar 500 muslimah dan 100an pemuda muslim yang bersemangat dan tidak segan menampakkan identitas kemuslimannya, seakan menambah energi harapan atas lahirnya generasi pemimpin umat di masa depan. Semoga Allah menjaga mereka untuk selalu bersemangat menebarkan energi positif memperbaiki kualitas generasi.

Sisterfillah Komunitas Kaum Muda, Kreatif dan Ligat

Saya kenal dengan komunitas Sisterfillah, di bulan Juli 2017. Saat itu, seseorang yang bernama Umi Khonsa menghubungi, kemudian janjian silaturahim ke rumah bersama suaminya, salah satu founder Komunitas Brotherfillah, sebuah komunitas yang menghimpun anak-anak muda dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Sisterfillah merupakan pengembangan dari Brotherfillah, untuk mengapresiasi anggota muslimah yang mengharapkan kajian-kajian yang dekat dengan kemuslimahan.

Bi iznillah, saya diminta mengisi kajian sisterfillah pada 22 Juli 2017, dengan tema Sekeluarga Mesra dengan Al Qur'an.

Kajian Sisterfillah diadakan dua pekan setiap hari Sabtu di masjid Mujahidin Rawalaut-Bandarlampung. Untuk nara sumber bergantian, disesuaikan tema yang akan disampaikan.


Kesempatan kedua saya diminta untuk kajian tanggal 12 Agustus 2017 dengan tema, Di Mana Jodoh Digantung.


Kesempatan ketiga, tanggal 21 Oktober 2017 kerinduan saya pada muslimah muda yang muda, kreatif dan ligat ini terobati. Saya diminta lagi untuk menemani pembahasan tentang bagaimana bagaimana berbakti kepada orang tua "Miraculous Journey to Heaven"



Dan, Allah masih memberi karunia silaturahim kepada kami, Sabtu 24 Februari 2018. Untuk keempat kalinya saya diundang lagi, walau terhitung dadakan, tetapi seperti judul di atas, saya apresiatif banget dengan Sisterfillah, sebagai sebuah komunitas kaum muda, kreatif dan ligat.



Begitulah anak-anak zaman sekarang. Untuk mengumpulkan lebih dari 300 orang muslimah, cukup mengandalkan kreativitas desain dan medsos. Tidak perlu menyebarkan undangan fisik. Sejak saat dihubungi, tanggal 21 Februari, malam hari saya memantau IG Sisterfillah, untuk melihat tayangan undangan untuk acara tanggal 24 Februari 2018. Sampai tanggal 23, saya belum melihat tayangan undangan ataupun konfirmasi jadi atau tidaknya, tapi saya tidak ragu, atau khawatir dibatalkan. Dan benar saja, undangan itu tayang tanggal 23, sehari sebelum hari pelaksanaan.

Simpel banget, dalam acara pun tidak banyak basa-basi atau sambutan.  Acara di mulai jam 16.07, hanya lewat 7 menit dari waktu yang tertera di undangan. Jam 17.30 acara ditutup dengan menyisakan banyak pertanyaan dari peserta yang belum terjawab, kemudian saya menawarkan untuk dilanjutkan di WA untuk yang pertanyaannya belum sempat di jawab.

Thursday, February 15, 2018

Bunda, Cinta 2 Kodi, Dimana Menariknya?


Kamis, pagi. Sulis chatt WA.

"Mbak Neny, nonton yok!"

"Bunda?"

"Iya, mau nggak?"

"Mau."

"Ok, saya booking tiketnya."

***

Bunda, Cinta 2 Kodi. Film  yang diangkat dari novel karya Asma Nadia, yang belakangan sedang dipromosikan untuk didukung agar eksis tayang di bioskop, karena katanya bagus.

Saya suka nonton, seperti juga sangat suka membaca sejak kecil, hanya saja bukan tipe yang keranjingan, apalagi nonton di bioskop. Seumur hidup, mungkin tidak lebih dari hitungan jari tangan, saya nonton di bioskop. Maka tidak heran kalau anak-anak langsung cie cie kalau tau saya nonton.

Sengaja saya tidak memberi tahu kemana pergi, hanya pada suami. Anak-anakpun tak banyak bertanya, karena biasanya kalau saya pergi tidak jauh-jauh dari urusan pengajian, seminar, rapat atau peliputan sebagai bloger. Selain itu juga karena nontonnya ditraktir. Ini juga karena ada acara nonton bareng yang diselenggarakan Nibras cabang Lampung. Pesertanya dominan agen dan reselernya, ditambah teman-teman yang tergabung di komunitas saudagar.

Duh! Saya kok nggak bisa menikmati seperti yang direview teman-teman yang sudah nonton, ya?

"Kok malah main hp?" tanya Sulis.

"Kelamaan nunggu adegan berikutnya, bisa kok nonton nyambi WA an," jawab saya, santai.

Weeh, ini nonton di bioskop, lho, nggak harus tertib nyimak seperti di ruang kuliah, kan?

Aih! Mungkin memang sudah bukan konsumsi usia lolita, yang tak lagi berbunga-bunga dengan adegan romantis atau berurai airmata dengan adegan yang mengaduk-aduk perasaan. Tapi kalau saya ingat-ingat, untuk film memang saya lebih suka yang berbau petualangan, detektif, politik, sejarah atau psikologi. Nah, seru lagi yang banyak adegan laga.

Untuk film Bunda, Cinta 2 Kodi, memang pas banget untuk perempuan-perempuan kekinian yang banyak berkecimpung di dunia bisnis.

Dalam film ini, penonton bisa melihat sosok Tika yang cerdas, gigih dan tidak gampang menyerah. Juga diingatkan bahayanya seorang ibu yang tenggelam dalam kesibukan bisnisnya, karena itu adalah ujian untuk keluarga. Saya paham banget, karena pernah mengalaminya.

Dalam sebuah proses, kadang manusia lupa dengan tujuan awal sebelum melangkah. Di awal, semangat yang mendominasi adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup, membahagiakan keluarga, masa depan anak, dan lain-lain, tetapi di tengah perjalanan, manusia lebih menikmati proses. Tenggelam dalam kesibukan kerja dan melupakan hal-hal apa yang membahagiakan keluarga, terutama anak-anak, yang awalnya menjadi energi motivasi untuk berusaha.

Suami yang bisa memahami dan mengimbangi tapi tetap berwibawa dengan kepemimpinannya sangat dibutuhkan untuk mendampingi perempuan tipe seperti ini.

Nah, herannya, apakah memang film yang menarik itu harus ada kisah perempuan lain? Bahkan ini ada di awal-awal cerita. Eh! Mungkin karena film ini diangkat dari kisah nyata, dan memang ada unsur itu, atau karena saya jarang nonton film sejenis?

Yang saya suka, pemain utamanya terlihat sudah senior banget, jadi tidak mengganggu jalannya cerita. Kalau figuran sih,bisa dimaklumi.

Menurut saya, bagus tidaknya sebuah film, selain karena isi cerita dan penggarapannya, juga tergantung target penonton. Sebagus apapun sebuah film, kalau ditonton oleh orang yang seleranya bukan jenis film itu, biasanya nontonnya dengan perasaan datar. Sulit mengharapkan penilaiannya yang antusias dan menggebu-gebu dalam mengapresiasi.

Tak ada peristiwa yang terlewat tanpa nilai yang bisa diambil, karena di situlah tempat belajar manusia yang sebenarnya.

***
"Umi dari mana, sih?"

"MBK."

"Ngapain, Mi?"

"Nonton."

"Haaaaaa?"

"cie...cieeeeh."

Saturday, February 10, 2018

Menjadi Pembicara Pengganti


Pernah mengalami jadi pembicara pengganti di acara besar? Pesertanya ratusan?

Saya sering mengalaminya, bahkan 15 menit sebelum acara baru dihubungi!

Apa yang pertama saya rasakan saat menerima permintaan terebut?

Yups! Bagaimana stressnya panitia dalam situasi seperti itu! Juga, bagaimana beban perasaan pembicara yang digantikan. Keduanya pernah saya alami.

Saya pernah menjadi panitia acara, paham bagaimana jantung berdegup kencang, jika pembicara belum terlihat, padahal sudah waktunya acara dibuka. Atau, saat dua hari sebelum hari H, ada pembatalan dari pembicara karena sebab yang benar-benar tidak bisa ditawar.

Itu sebabnya saya sangat mengusahakan untuk menyanggupi, kalau memang tidak ada agenda yang sudah disanggupi sebelumnya. Kalau masalah persiapan, sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang ada, karena tidak ada jaminan, lamanya persiapan membuat penampilan menjadi lebih baik.

Memang, beberapa pembicara benar-benar tidak mau menerima tugas seperti itu, menjadi pembicara secara mendadak, tidak ada waktu untuk menyiapkan materi.

Kalau tidak salah, saya mulai menjadi "pembicara" di tahun 1987, saat menjadi mentor di kegiatan rohis kampus. Benar, hanya di hadapan sekitar 10 sampai dengan 15 orang, tapi dari sisi mental tetap saja butuh kemampuan untuk bisa menguasai forum yang isinya orang-orang yang hampir seusia.

Di tahun yang sama, saya juga mulai mengajar di tingkat SLTP dan SLTA, di luar jam kuliah. Walaupun ada teman yang sudah jadi guru berpuluh tahun, tetap menolak saat diminta jadi MC di arisan RT, alasannya nggak pede, tapi saya anggap, pengalaman bicara di depan banyak orang butuh dilakukan berulang-ulang untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Pengalaman pertama yang begitu berkesan sebagai pembicara pengganti, saat diminta menggantikan seorang ustadzah kondang di sebuah tabligh akbar. Saat itu saya sedang ada di lokasi lomba memasak, hanya sebagai peninjau. Seorang teman menelpon suami, karena beliau yang punya hp, mengatakan kalau saya diminta menggantikan pembicara tabligh akbar yang waktunya 15 menit lagi, peserta sudah memenuhi masjid, jumlahnya ratusan. Lah, lokasi sekitar 10 sd 15 menit dengan mengendarai motor.

Saya duduk di boncengan motor, bengong, seperti belum menyadari situasi.

"Mau ngomong apa, ya?" agak keras saya bertanya pada suami.

"Kan sudah puluhan tahun membaca, lebih dari seribu buku yang sudah dibaca, tinggal mengeluarkan dari kepala."

Laaah! Enak tenan jawabnya! Kan nggak grogi bisa menghambat kelancaran berfikir? Bahkan, bisa lupa semua yang sudah disiapkan, lha ini? Jangankan menyiapkan materi, ups! Pakaian? Mana sempat memikirkan ganti pakaian? Sampai lokasi langsung dituntun panitia ke mimbar!

Untunglah sebelumnya panitia memberi kebebasan materi yang akan disampaikan, intinya berkaitan dengan peringatan hari ibu. Alhamdulillah, entah bagaimana perasan peserta, tapi panitia sangat berterimakasih karena terselamatkan.

Hal seperti itu sering terulang, dengan jeda waktu yang bervariasi, intinya menjadi pembicara pengganti, bahkan pembicara di radio. Tapi saya yakin, walaupun tidak sekualitas, setidaknya banyak pertimbangan yang dipakai untuk menjatuhkan pilihan. Seperti, saat meminta saya jadi pembicara di radio, tentu atas latar belakang, saya pernah beberapa tahun menjadi narsum tetap di sebuah radio dakwah.


Untuk kesekian kalinya, kemarin terulang lagi. Malam hari, saat isya, seorang teman meminta saya melalui wa, untuk menggantikan Ustadz Ahmad Jajuli, yang berhalangan hadir, mengisi parenting di Sekolah Ibu.

Nah! Ustadz Jajuli calon wagub? Tapi materinya parenting, bukan politik, he he he.

Saya sanggupi, karena memang sedang tidak ada agenda lain. Materinya pun, insyaallah pernah sedikit saya singgung di sebuah forum parenting. Tapi saya tidak membuat power point, karena banyak tugas yang sedang saya kerjakan, dan saya fikir, tabligh akbar biasanya tidak menggunakan media. Ternyata...kali ini saya keliru dalam berasumsi. Sampai di lokasi, ketua panitia sedang memberi sambutan dan terlihat ada proyektor sedang dioperasikan panitia.

Di perjalanan, asisten Ustadz Jajuli meminta saya untuk mengkondisikan peserta, dan saya menangkapnya sebagai sebuah upaya untuk menetralisir supaya peserta tidak kecewa. Oke, itu juga yang saya harapkan, peserta bisa menerima saya dengan terbuka dan sepenuh hati.

Di awal saya menyampaikan beberapa hal, terutama masalah meluruskan niat, dan mengupayakan supaya kami berada di satu gelombang, supaya komunikasi lancar dan pesan tersampaikan dengan baik.


Alhamdulillah, semoga tidak mengecewakan, walaupun yang memberi materi hanya pembicara pengganti.

Monday, August 1, 2016

Jarak Waktu

Hari Kamis, beliau ke rumah, silaturahim dan ada hal yang dikonsultasikan. Seperti biasa, pembicaraan tidak melulu pada masalah inti, juga sedikit ngobrol tentang anak-anak kami yang memang seumuran.

Rupanya, itu kesempatan terakhir yang Allah berikan untuk kami bertemu.

Minggu pagi, beliau sms, melaporkan perkembangan hal yang kemarin dibicarakan. Suami membalas dengan tambahan doa untuk kesembuhannya, selalu.

Tadi pagi, Senin, Hilmy kirim pesan yang isinya pemberitahuan bahwa beliau telah wafat, tadi malam.

Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un.

Selamat jalan, sahabat, semoga husnul khotimah.

Banyak pelajaran yang kau berikan kepada kami, dengan kesabaran menjalani ujian berupa gangguan kesehatan selama lebih dari sepuluh tahun. Ujian yang lebih mendekatkanmu pada-Nya dan meningkatkan katawakalan.

Banggalah istri dan anak-anakmu memiliki imam sepertimu.

Selamat jalan sahabat, Mas Joko Widodo.

Semoga kesabaran selalu menyertai Mbak Eka, Ilham dan Fia.

Friday, July 8, 2016

Mudik, Apa Yang Dicari?

Budaya mudik di hari idul fitri sepertinya hanya milik Indonesia.
Budaya yang entah kapan dan siapa yang mengawalinya dan tetap lestari hingga kini dan mungkin masih akan terus dilakukan generasi berikutnya.
Mengapa budaya ini bertahan begitu lama? Pasti ada nilai yang memang dibutuhkan sehingga mudik tetap berlangsung walupun berbagai kendala bahkan korban sering terjadi. Bahkan himbauan pemerintah maupun sebagian tokoh masyarakat untuk mengurangi budaya mudik, bagai angin lalu.
Benar juga apa yang dikatakan Umar bin Khottob,"Mengganti gubernur lebih mudah daripada mengubah rakyat."
Tujuan utama mudik adalah berkumpul dengan keluarga besar dan menjaga silaturahim. Budaya yang tentu saja sangat bernilai dan tidak perlu dihilangkan.
Yang perlu dipikirkan adalah mengurangi atau mengantisipasi hal-hal negatif yang menyertainya.
Rakyat sebagai individu harus berusaha sebisa mungkin berhati-hati dan bijak dalm bersikap, pemerintah sebaiknya meningkatkan layanan yang mendukung untuk budaya yang langka ini.
Silaturahim dan kekeluargaan adalah kekuatan super yang tidak bisa diremehkan untuk menjaga sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia.

Sunday, June 26, 2016

Provokator Keluarga Hafidz

"Alangkah hebatnya kalau setiap keluarga muslim berkomitmen untuk memiliki minimal seorang hafidz Qur'an di rumahnya, mau?"

Menjawabnya gampang, walaupun sebagia  ragu-ragu, bagaimana mewujudkannya?

Kemarin, saya dan suami diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman mengantarkan anak-anak menjadi penghafal Al-Qur'an dalam acara Sehari Bersama Al Qur'an di kabupaten Pringsewu.

"Sebenarnya banyak keluarga seperti kami bahkan lebih baik, anaknya lebih banyak yang hafal Qur'an, tapi dengan izin Allah, kami yang berkesempatan duduk di sini karena saya menulis tentang itu dan mempublikasikannya."

Saya merasakan pengaruh menulis dalam syiar! Dari tahun 1986 saya berkesempatan mengenal Islam dan hingga saat ini bergelut dalam pembelajaran, pengajaran dan pensyiarannya. Dulu, sebatas tatap muka, dan itu sangat terkait dengan keberadaan fisik, tapi dengan menulis, saya tetap bisa syiar, walau raga ada di kamar, tanpa terterpa angin.

Tak ada ruginya kita bisa menulis, asal bisa menjaga jari selayaknya menjaga lisan. Kenapa?

Sesungguhnya pikiran kita sangat liar, jika jari dan lisan tak mampu mengendalikannya, maka akan sangat berbahaya untuk diri dan orang lain.

Saturday, June 25, 2016

Sehari Bersama Al Qur'an

Masjid Nurul Ulum, Islamic Centre Lampung.

Syahrul Ramadhan disebut juga syahrul Qur'an, karena di dalamnya intensitas aktivitas interaksi dengan Al Qur'an meningkat tajam.

Sesi pagi saya mengikuti acara sehari bersama Al Qur'an yang diadakan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Bandarlampung.

Di awali suara indah dan sejuk dari adinda Wildan bin Padami, remaja hafidz ini mampu membuat hati ini merasa tenang dan nyaman. Mendengar dan menyaksikannya, teringat Hatif 4-5 tahun lalu, sebelum keberangkatannya ke Turki, sering duduk di posisi Wildan. Uhhh! Jadi rindu.

Wildan membaca surat Al Hasyr bil ghoib (tanpa melihat mushsaf), seluruh peserta menyimak sambil memperhatikan mushaf.

Selanjutnya, Ust. M. Ramadhan Habibi Lc. Ma alhafidz, pengelola Rumah Qur'an di kota Metro membahasnya. Sayang, karena ada amanah di Pringsewu, terpaksa saya pamit duluan dan tidak sempat mendengarkan ust. Mufasil Spd. memaparkan bagaimana caranya menghafal mandiri.

Thursday, June 23, 2016

Sikecil yang Bermisi Besar

Sebagai penulis, umur saya masih balita, wajar kalau tak dianggap siapa-siapa.

Di hadapan manusia, kami bukan siapa-siapa, pejabat bukan, apalagi orang yang berharta.

Kadang rasa minder menyurutkan langkah saya untuk terus bergerak menawarkan hasil karya ini, tapi suami selalu menyemangati, bahwa kita bukan sekedar jual buku, tapi sedang dalam misi mendakwahkan Al Qur'an dengan mensosialisasikan model keluarga hafidzul qur'an yang sederhana dan sangat mungkin dicontoh oleh keluarga muslim pada umumnya.

Saat sedang lemah semangat, saya merasa kami bergerak sendiri mengemban misi ini, menuliskannya, menerbitkan dengan biaya sendiri drngan menyisihkan uang belanja yang tak seberapa. Tetapi, dalam setiap niat baik, Allah mengutus para penolong, kebaikan hati Ikhsan Aura, memberikan dukungan dengan meringankan sistem pembayaran. Memasarkannya pun dengan akal-akalan sendiri. Semua kami jalani, walau langkah tersendat-sendat.

Kenapa tidak diterbitkan skala besar oleh penerbit mayor? Rasa minder sebagai penulis pemula ditambah dengan bayangan masa tunggu dilihat oleh penerbit, dan belum tentu diterima, membuat kami memutuskan untuk menerbitkan sendiri.
Mengapa tidak bersabar mengikuti prosedur umum?

Karena saya tidak tahu masih punya umur berapa untuk menanti giliran diterbitkan mayor. Bismillah!

Alhamdulillah, terhitung dari Januari 2016, sudah terbit 700 eksmplar, tetapi angka itu masih terlalu kecil untuk sebuah misi besar!

Kami bukan pemasar ulung yang berpengalaman, bahkan menawarkan langsung saat tatap muka kepada calon pembeli pun masih maju-mundur, malu!  Akal terus berputar, mencari celah dari setiap kesempatan, berupaya satu tindakan berdampak pada meningkatnya arah pandang kepada buku saya. Terkadang terkesan mencuri kesempatan, memanfaatkn momen-momen yang mungkin diselipkan mengenalkan buku itu, walau hanya satu dua orang.

Hari ini, kesempatan itu ada, walaupun spontan. Bertepatan dengan acara khataman AlQur'an oleh para hafidz/oh yang diselenggarakan serentak di masjid-masjid terpilih sejak ba'da subuh. Acara yang direstui oleh gubernur Lampung, Bapak Ridho Ficardo disambung dengan buka bersama.

Siang hari, saya terpikir, bagaimana caranya menyampaikn buku itunke gubernur, tentu dengannharapan ada efek positipnya terhadap perjlaanan misi ini. Kami tersambung dengan acara itu karena dua anak kami  Hilmy Aziz dan Maritsa Hany Aulia serta menantu kami Aunur Rofiqoh A. ada di sana, sebagai peserta khataman.

Yes! Momen yang tepat!

Eksekusi jadi tanggung jawab suami. Alhmdulillah, berhasil!

Gambar yang diambil sangat berarti bagi kami, semoga ini bentuk dukungan umara kepada misi penting ini, seperti yang sudah dilkukannya dengan beberapa tindakan sebelumnya.

Barokallah!

Saturday, June 18, 2016

Anak Palestina

"Indonesia belum benar-benar merdeka sebelum Palestina merdeka, Indonesia belum merasa nyaman sebelum Palestina nyaman"

Kutipan di atas adalah pernyataan presiden pertama Indonesia, Sukarno, yang dicatat oleh bangsa Palestina. Hal ini disampaikan oleh Muhammad K B, pemuda Palestina yang mewakili bangsanya, saat safari Ramadhan di Bandarlampung bersama Tim KNRP, kemarin.

Begitu istimewa nama Indonesia di hati bangsa Palestina, karena perhatiannya terhadap perjuangan mereka membela Masjidil Aqsho mewakili umat dunia dalam menegakkan kalimatullah.

Bertemu dengan beliau, pemuda Palestina yang tak bisa kembali ke tanah airnya setelah keluar ke Sudan untuk kuliah kedokteran, seakan menghentak hati, bagaimana pilu hatinya menahan rindu pada keluarga yang tak dapat dijumpainya, sedang maut mengancam setiap saat. Dalam kondisi negeri yang genting, pemuda-pemuda Palestina tetap mengutamakan belajar. Bagaimana anak-anak di sana, sejak kecil diprogram hafal Al Qur'an, walau belajar dengan cahaya seadanya, mereka tetap semangat belajar. Tak ada putus asa!

Tidak bosan mendengarkan penyampaiannya, penuh semangat, walaupun untuk memahaminya butuh penterjemah. Di selingi lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang begitu indah, maklumlah, di usianya yang ke 15, beliau sudah hafal Al Qur'an, seperti anak-anak Palestina lainnya.

Bagaimana dengan anak-anak kita? Remaja-remaja kita?

Air mata tak bisa ditahan saat menyaksikan rekaman video terbaru kondisi Palestina. Tangis haru, bangga, sedih. Bagaimana ibu-ibu di sana ditakuti Yahudi karena di balik jilbab lebarnya sering tersembunyi pisau yang dengan berani digunakan untuk menyerang Yahudi yang ditemuinya. Bagaimana anak-anak kecil di sana bersabar dan tidak berebut saat ada sedikit makanan untuk dibagi, bagaimana pemuda-pemudanya begitu berani tanpa takut mati melawan pasukan Israel yang selalu mengganggu keluarga mereka.

Air mata sedih kembali menitik di sesi akhir, ketika tak bisa ikut para peserta lain berlomba dalam sesi lelang, begitu mudahnya angka-angka itu tumpah dari bibir mereka, ratusan ribu, juta, cincin dan lainnya. Barokallahulakum, semoga yang tak bisa membantu dengan harta bisa berpartisipasi dalam bentuk lain.

Wednesday, June 15, 2016

Bedah Buku

Sebagai penulis pemula, tentu senang banget saat diundang untuk membedah buku sendiri.

Apalagi yang mengundang adik-adik aktivis masjid kampus tempat kami dulu berkiprah, jadi berasa di kandang sendiri, di tempat yang menjadi salah satu tempat yang disebut dalam buku.

Berkolaborasi dengan suami, waktu 90 menit berlalu dengan cepatnya, begirupun seperti masih ada yang belum tersampaikan, selalu begitu.

Memang, ini acara kajian rutin yang kadang dalam bentuk seminar atau lainnya. Karena temanya sesuai dengan isi buku, maka acara diseting seperti bedah buku.

Kalau biasanya acara bedah buku berkelindan dengan penjualan buku, maka acara sore ini tidak sempat jual-jualan, hanya menitipkan buku pada panitia, langsung berpamitan, anak-anak sudah menunggu untuk berbuka di rumah.

Bahagia bertambah saat menyaksikan peserta yang lumayan banyak dan terlihat antusias mengikuti acara tunggal ini, walaupun kesempatan tanya jawab kurang leluasa, terbentur waktu menjelang berbuka.

Terlepas dari masalah penjualan buku, setidaknya bertambah banyak orang yang tahu sebagian dari isi buku dan inspirasi yang ada di dalamnya. Dan ini sangat membahagiakan dan sangat patut untuk disyukuri, Alhamdulillah.


Friday, June 3, 2016

Wisuda Harish

Umi : Harish ditemenin Mbak Hafa,ya?

Harish : Dianter siapa?

Umi : Mas Hilmy, sambil ngambil kamera.

Harish : Umi?

Umi : Nanti, sama Abi. Harish, kan mau persiapan dulu sama Bu Guru dan teman-temannya.

Hari ini sibuk semua! Harish wisuda, Hafa libur, bisa menemani Harish, Husna tarhib dan pawai Ramadhan, Hany reuni dan menghadiri wisuda di Darul Hidayah dan Darul Huffadz, Hilmy &Ara jadi fotografer di wisuda Dahi, tadi malam sudah bantu masang dekor di sekolah Harish, Abi menggantikan Hilmy jadi fotografer, sekaligus memimpin doa. Umi kebagian memberi sambutan komite sekolah, ha ha ha, seperti yang punya sekolah Harish saja.
Alhamdulillah, keluarga kami seperti bagian dari sekolah anak-anak, jadi kalau ada acara, dilibatkan, minimal di undang. Kalau bisa, ya bantu-bantu sedikit.

***

Lucunya lihat aksi anak-anak, ada yang tidak tahan duduk menunggu giliran tampil, ada yang sudah di panggung, tidak mau turun, belum lagi yang tertarik pegang-pegang piala yang dijejer di meja, ada yang ke panggung minta diantar bundanya. Lha, Umi duduk di barisan depan sambil mengawasi mereka, terutama menjaga dekor Hilmy yang berbahan stereoform, ikut membujuk anak-anak yang senang nangkring di tangga panggung.

Luar biasa guru-gurunya! Semoga keberkahan menyertai kehidupannya karena keikhlasannya mendidik anak-anaknyang luar biasa ini.

Hari-hari belakangan ini memang terasa begitu sibuk, seakan semua mengejar beres urusan sebelum Ramadhan, semoga diberi kesehatan dan kekuatan, agar dapat menjalani ibadah Ramadhan dengan sukses, aamiin.

Sunday, May 29, 2016

Mereka Melakukan dengan Caranya

Luar biasa tim SYGMA!

Dengan kegigihannya, mereka telah membuktikan cinta kepada Rasulullah dengan caranya.

Alhamdulillah, hari ini mendapat tiket undangan dari salah satu membernya, untuk bisa menikmati pagelaran yang mereka persembahkan.

Rentetan peristiwa yang dilalui oleh Rasulullah Saw. dengan para sahabatnya, diceritakan dengan diperkuat aksi treatikal dan lagu-lagu yang membawa kita pada situasi cerita.

Walaupun tidak terbawa dengan sempurna, setidaknya episode-episode yang disampaikan telah mengingatkan kembali siroh yang pernah lebih dari sekali dibaca dari karya yang berbeda.

Tujuan dari semua yang mereka lakukan adalah mengajak kita untuk menunaikan amanat sebagai orang tua, mengajarkan cinta kepada Rasulullah Saw. dengan ma'rifaturrasul (mengenal Rasul) disamping amanah ma'rifatullah (mengenal Allah) kepada anak-anak kita.

Kemajuan teknologi melahirkn kreativitas manusia menghadirkan berbagi sarana, salah satunya buku-buku tentang Rasulullah Saw. yang menarik dan berkualitas yang diproduksi oleh penerbit SIGMA  Walaupun itu bukan satu-satunya sarana, tapi bagi yang mempunyai anggaran, sangat dianjurkan memilikinya.

Closing dari acara ini adalah, komitmen keluarga muslim untuk menjadi keluarga pecinta Rasulullah Saw.

Mari menjdi bagian darinya, dengan cara dan kemampuan yang ada.

Friday, May 27, 2016

Memandang Gunung

Gunung, jika dilihat dari sisi yang berbeda akan menghadirkan keindahan yang tidak sama.

Mengapa?

Karena banyak hal lain yang mengitarinya, baik di punggung atau di kakinya.

Mungkin seperti itulah saat kita memandang gunung masalah kehidupan.

Pandai-pandai mencari sudut pandang agar setiap permasalahan itu menyuguhkan keindahan yang dapat kita nikmati sebagai teman mencari solusi pemecahnnya.